Powered by Blogger.

Hari ini Ilmu Lebih Baik daripada Amal

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Saturday, August 8, 2015 | 07:17


Oleh: Ahmad Kholili Hasib

IMAM al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin  mengutip sebuah riwayat, “Sesunggunya kalian berada dalam zaman dimana fuqaha’nya (ahli ilmu) banyak dan sedikit oratornya (khutoba’). Amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu. Dan kelak manusia akan tiba pada masa di mana fuqaha’nya sedikit tetapi ahli oratornya banyak. Pada zaman itu ilmu lebih baik daripada amal.

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Sahabat, amal lebih baik daripada ilmu bukan bermaksud kedudukan ilmu yang lebih rendah. Maksud dari itu adalah, bahwa masa tersebut merupakan era yang mulya. Sumber ilmu (Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam) masih hidup. Ketika sumber masih hidup, umat Islam dapat langsung ‘menikmati’ sumber tersebut.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam wafat, kaum Muslimin masih tidak kesulitan mencari sosok yang dapat dijadikan sandaran ilmu. Pembesar Sahabat — yang tidak lain murid langsung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam — memberi pengajaran yang baik. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyebut masa ini dengan khoirul qurun (sebaik-baik zaman).
Ketika para ahli ilmu masih banyak, kaum Muslim tidak kesulitan untuk melakukan kajian ilmu dengan benar. Sebuah amalan, tinggal mereka praktikkan. Kehidupan keislaman relatif ‘aman’. Ketika bertanya sesuaut masalah agama, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabat.

Sedangkan pada hari ini, kita hidup yang jauh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabatnya. Bahkan periode kita jauh dari para ulama salaf dan imam mujtahid. Ketika ada suatu persoalan agama kita masih bertanya dahulu kepada ulama yang memahami pemikiran imam madzhab. Itupun kita harus lebih hati-hati.

Generasi zaman ini telah mulai banyak yang tidak mengenal lagi ulama. Mereka hanya mengenal ustadz dan dai melalui media sosial dan televisi. Apalagi jika telah ada orang-orang yang menyamar sebagai ulama dengan modal ilmu yang minimalis. Bahkan, belajar agama mereka cukupkan dengan melalui media sosial dan internet.

Maka, dalam hal ini Imam Nawawi berpendapat bahwa meyibukkan dengan mencari ilmu lebih afdhal daripada sibuk beribadah sunnah, seperti shalat, puasa sunnah dan menbaca tasbih.
Ada beberapa alasan yang diungkapkan oleh Imam Nawawi.

Pertama, manfaat ilmu lebih meluas kepada kaum Muslimin. Sedangkan ibadah sunnah manfaatnya hanya untuk perorang, yaitu orang yang melakukan ibadah sunnah tersebut.
Kedua, karena ilmu itu mengoreksi ibadah sedangkan ibadah sunnah itu membutuhkan ilmu.
Ketiga, ulama merupakan warisan Nabi.
Keempat, karena ilmu tetap kekal meskipun ahli ilmu meninggal dunia. Sedangkan ibadah sunnah terputus jika seseorang meninggal dunia (Imam Nawawi, Muqaddimah Syarah Majmu’, hal. 48).

Banyak orang berbangga dengan ibadah sunnah-nya sedangkan dia enggan mengkaji ilmu. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda: “Majelis ilmu itu lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun” (Ibnu Umar dalam Muqaddimah Syarh Majmu’,hal. 47).

Dikisahkan, dari Abdullah bin Umar bin Ash. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam keluar, tiba-tiba beliau melihat di dalam masjid ada dua majelis. Yaitu majelis yang membahas ilmu-ilmu syariat dan kedua majelis yang isinya doa kepada Allah (dzikir).

Para Sahabat kemudian bertanya tentang dua majelis tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab: ‘Kedua majelis itu mengajak kepada kebaikan. Yang satu berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan satunya mereka belajar ilmu dan mengajari orang yang bodoh. Mereka inilah yang lebih utama (dari majelis pertama), saya diutus untuk mengajar manusia. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam duduk bersama mereka (majelis ilmu) (HR. Ibnu Majah).

Imam al-Syafi’i juga berpendapat, bahwa tidak ada yang lebih afdhal setelah ibadah wajib (fardhu) kecuali mencari ilmu.

Ilmu memiliki perhatian penting dalam tradisi Islam. Ilmu merupakan motor penggerak pemikiran dan aktifitas manusia. Tinggi rendahnya martabat manusia ditentukan oleh faktor ilmu. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar.

Penulis adalah Pengurus MIUMI Jatim, Anggota Penulis Bina Qalam Indonesia

0 comments:

Post a Comment