Powered by Blogger.

Islamic Sunday Chapter Cianjur: "The Power of Love With Allah SWT" dengan Koordinator ODOJ Jawa Barat

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, November 22, 2016 | 19:17

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sahabat Mentari sekalian, Islamic Sunday akhir pekan ini begitu spesial karena langsung dijalankan di 2 Tempat yaitu Cipanas dan Cianjur.

Kali ini Islamic Sunday Chapter Cianjur Presents: "The Power of Love With Allah SWT" bersama Ustadz Rhamlan Mardiansyah yang juga sebagai Koordinator Komunitas One Day One Juz (ODOJ) Jawa Barat

Catat Tanggal dan Tempat Acaranya ya Sahabat sekalian:

Tempat: Aula SDIT Permata Hati Cianjur (Jalan KH Abdullah Bin Nuh)
Waktu: 08.30 - 12.00 WIB
Hari dan Tanggal: Ahad, 27 November 2016
Special Performance: "Nasyid March Coustic"

Cara Daftar:
DaftarIS_Nama_AsalSekolah/Kampus/Umum
Kirim ke: 0877 1435 5169

Informasi Lebih Lanjur:
WA: 0899 7594 549
Pin BB: 5F94AF08

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
19:17 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday Chapter Cipanas Dengan Pasangan Muda Penghafal Qur'an, 27 November 2016

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Islamic Sunday Mentari is Back
Kali ini bersama Pasangan Muda Penghafal Qur'an yang akan memotivasi para Sahabat bagaimana cara menghafal AlQur'an di Masa Muda. Rugi banget Sahabat kalau gak hadir di acara super keren ini.

Insya Allah Bersama Pasangan Muda Penghafal Qur'an yaitu Fika dan Syahid yang akan diselengarakan pada:
Hari dan Tanggal: Ahad, 27 November 2016
Waktu: 08.00 WIB - Selesai
Tempat: Aula Rabbani Cipanas Lantai 2
Untuk Pelajar dan Mahasiswa dan Gratis. Sekali lagi, Rugi banget pokoknya kalau Sahabat sekalian gak datang. Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi Teh Nita di 08567998228

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
18:53 | 0 comments | Read More

Alhamdulillah YPR Mentari Cianjur Terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kabupaten Cianjur

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji kehadirat Allah SWT dengan segala izin-Nya Yayasan Peduli Remaja Mentari Cianjur sudah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Kabupaten Cianjur.

Setelah sejak Bulan Mei Tahun 2007 YPR Mentari Cianjur terdaftar di Notaris, dimana hal ini kami lakukan agar segala aktivitas dibawah Yayasan Sah di mata Hukum dan kembali diperbaharui Bulan Januari 2016 (Baca: Tentang Yayasan Peduli Remaja Mentari). Maka pada Bulan November 2016 ini YPR Mentari Cianjur mengajukan kepada Badan KESBANGPOL Cianjur agar diakui legalitasnya.

Hal ini diperlukan untuk mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT), sehingga Yayasan yang telah berdiri diakui oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur sebagai lembaga yang legal.


Semoga dengan terbitnya Surat dari Badan KESBANGPOL Kabupaten Cianjur semakin membuat segala aktivitas Yayasan lebih berkah untuk masyarakat Kabupaten Cianjur dan diakui legalitasnya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabakaratuh
17:16 | 0 comments | Read More

Ini Surat MUI Kepada Syekh Besar Al Azhar Soal Syekh Wardani

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, November 15, 2016 | 12:09

Syaikh Ahmed Al Thayyib

Majelis Ulama Indonesia (MUI) membenarkan ketidakhadiran ulama Mesir Syekh Musthofa Amr Wardani sebagai saksi ahli dari pihak Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Kemarin, MUI telah menyampaikan surat kepada Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Ahmed Amr Ahmed Moawad, untuk diteruskan ke Grand Syekh Al-Azhar dan Mufti Republik Arab Mesir, Ahmad Thayyib.
Berikut isi surat tersebut yang telah dikonfirmasi oleh Republika.co.idkepada Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Muhyiddin Junaidi:

Kepada Yang Mulia
Prof Dr. Ahmad Thayyib
Grand Syekh Al-Azhar dan Mufti Republik Arab Mesir.
Di Cairo

Kami berharap semoga surat ini sampai kepada Anda dan Anda dalam keadaan sehat yang sempurna dan Mesir mendapatkan kemajuan, kebesaran dan kemakmuran, baik bangsa maupun negera.

Merujuk kepada berita yang beredar tentang kunjungan Syekh Mustafa Amr Wardani dari Kantor Pusat Darul Ifta Republik Arab Mesir, negara sahabat Indonesia, sebagai saksi ahli terhadap kasus penodaan dan pengejekan ayat 51 surah al-Maidah yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta ketika berpidato di depan khalayak ramai, kami menyampaikan beberapa hal sbb:

1. Bahwa kunjungan ini menimbulkan kehebohan yang besar di kalangan bangsa Indonesia yang beragama Islam, karena hal ini bisa menimbulkan pertengkaran dan perpecahan dan membangkitkan fitnah demi fitnah yang kuat dan keributan di kalangan para ulama, pemikir, pejabat, para politisi dan pemimpin agama dari bermacam-macam organisasi dan perkumpulan di kalangan bangsa Indonesia yang terkenal posisinya sebagai moderat dan saling menghormati.

2. Kunjungan ini dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan politik campur tangan urusan dalam negeri negara lain yang mempunyai kehormatan yang sah dan legal untuk mengurus dirinya sendiri.

3. Kunjungan ini merupakan tindakan yang tidak menganggap hak dan otoritas MUI sebagai lembaga yang punya hak secara legal untuk mengeluarkan fatwa dan sikap keagamaan bagi bangsa Indonesia, yaitu majelis yang Anda dihormati ketika berkunjung bulan Februari 2016. Yaitu Majelis yang menjadi pengemban pelayanan kepada bangsa Indonesia yang terdiri dari 70 Organisasi Islam.

4. Kunjungan ini telah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dari dalam dan luar untuk mengganggu hubungan bilateral kenegaraan antara kedua negara, baik secara bangsa maupun negara.

Karena itu, kami meminta untuk melihat permasalahan ini dengan teliti dan penuh perhatian dan menggunakan segala kemampuan Anda untuk membuat langkah yang cepat untuk menjaga Islam dan kaum Muslimin di kedua negara, dan kami ingatkan dengan sangat karena bisa membangkitkan robeknya ukhuwah Islamiyah dan menanamkan berbagai fitnah.

Kantor Pusat MUI, 

Ttd Dr Ma’ruf Amin (Ketua Umum)

Ttd Dr. Anwar (Sekretaris Umum)

Sumber: Republika.co.id
12:09 | 0 comments | Read More

Kepala Anak Umur 13 Tahun Pecah Karena Jatuh Dari Motor, Ibunya Gak Percaya

gambar adalah hasil ct scan 3D tulang tengkorak tampak tulang patah bagian belakang tengkorak
Cegah anak mengendarai motor, cerita seorang dokter di bawah ini harusnya menjadi bahan pengalaman bagi para orang tua untuk mencegah anak dibawah 17tahun naik motor. Berikut cerita seorang dokter di Pekanbaru:
“Malam tadi, kedatangan pasien anak 13 tahun, jatuh dari motor. Si anak gaduh gelisah, kesadarannya menurun. Ada luka robek di kepalanya. Karena lukanya besar dan kesadaran turun dilakukan ct scan plus 3D.
Lalu tampaklah tulang tengkorak yang patah sepanjang 10-15 cm di bagian belakang kepala.
Ibu pasien bertanya tentang keadaan anaknya, saya jelaskan si anak mengalami geger otak.
Lalu si ibu nangis sedih, dan saya tanya kenapa si anak bawa motor?
Ibupun menjawab, dia memang sudah pandainya bawa motor (logat batak)
Lalu saya jawab, seperti inikah yg ibu maksud pandai bawa motor? (Sambil nunjuk ke anak)
Wahai bapak, ibu, orang tua yang punya rasa kasih sayang pada anaknya, perbaikilah cara kita menyayangi anak kita mulai saat ini, memberikah motor disaat usia anak masih belia bukan cara terbaik utk wujudkan rasa sayang itu. 
Memang dia pandai bawa motor, tapi emosi dia belum lagi pandai mengatasi keadaan jalan raya. Bukankah angka 17 tahun dijadikan patokan usia utk mendapat SIM bukan sekedar di usia 17 tahun orang baru bisa belajar motor? Tapi pengendalian emosi baru kan bisa dicapai dengan baik ketika usia 17 tahun.
Sumber: roda2blog.com
11:53 | 0 comments | Read More

Jangan Tertipu dengan Dajjal-dajjal Kelas Teri

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, October 5, 2016 | 17:03


Saya tidak bisa bayangkan, jika sekelas Kanjeng Dimas pengganda uang sanggup membutakan mata dan hati orang sekelas Marwah Daud (Lulusan S3 dan Intelektual); maka bagaimana jika yang ada itu fitnah Dajjal?

Dajjal datang dengan kekuatan dan fitnah luar biasa. Negeri kerontang yang menyambut seruannya dalam sekejap diubah menjadi subur, hijau dan makmur. Demikian sebaliknya, negeri yang semula hijau diubah menjadi mati kering lantaran menolak ajakannya.

Sungguh fitnah yang luar biasa. Bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyatakan sebagai Fitnah paling besar yang didapati umatnya. Tidak ada yang melebihi besarnya.

Maka itulah beliau ajarkan kita do'a berlindung dari fitnahnya pada setiap akhir shalat sebelum salam. Demikian pula satu amalan yang kata Nabi, jika konsisten dikerjakan akan memelihara hamba dari fitnah Dajjal, yakni membaca Surah Al Kahfi pada hari jum'at.

Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari fitnah Dajjal; serta menghindarkan kita dari bertemu dengan zaman di mana Dajjal itu keluar menebar fitnah dan kekufuran. (Ustadz Rappung Samuddin)

***

Orang-orang yang katanya bisa melakukan keajaiban-keajaiban di dunia ini, entah berpakaian ala ustadz, kiyai, syaikh atau semacamnya semua itu hanyalah diantara dajjal-dajjal kelas teri yang akan muncul sebelum kedatangan dajjal yang sesungguhnya di akhir zaman kelak.

Dahulu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam muncul sosok lelaki dajjal bernama Ibnu Shayyad. Kemudian di India ada seorang lelaki yang bernama Sai Baba yang terdengar beritanya di seantero negri yang katanya bisa menghidupkan dan mematikan, bisa menyembuhkan seorang yang buta ataupun lumpuh dan berbagai keajaiban lainnya.

Kini di Indonesia, muncul sosok laki-laki yang berpenampilan layaknya kiyai, menyihir mata-mata manusia dengan kedustaannya bisa menggandakan uang. Ooh kiyai, dia mirip kiyai, kiyai Kanjeng Dimas Taat Pribadi namanya. Ajaib kata mereka, ajaib bisa melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia pada umumnya.

Lalu manusia-manusia yang memilki sederet gelar akademik tinggi mencoba membelanya. Kenapa mirip kiyai, ustadz, dan membawa nama atau pakaian islam?? Jawabannya adalah karena islam adalah agama yang haq, maka syaithan menggunakan baju Islam untuk menyesatkan manusia.

Jika keajaiban yg mereka lakukan belum seberapa, maka akan ada 30 dajjal yang keluar untuk menyesatkan manusia, sebelum datangnya hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لا تقوم الساعة حتى يبعث دجالون كذابون قريب من ثلاثين. كلهم يزعم أنه رسول الله

“Kiamat tidak akan terjadi hingga para dajjal pendusta yang jumlahnya dekat 30 orang muncul, semuanya mengaku Nabi. ” (HR. Bukhari Dan Muslim)

Maka pakaian keislaman, nabi, atau lainnya adalah cara empuk yang dipakai oleh syaithan untuk menyesatkan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنِّي قَدْ حَدَّثْتُكُمْ عَنْ الدَّجَّالِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ لا تَعْقِلُوا

“Sungguh saya telah mengabari kalian tentang dajjal hingga aku khawatir kalian akan seperti orang yang tidak berakal.” HR. Abu Dawud

Jika dajjal seperti kiyai kanjeng dimas telah tertangkap dan terbukti kedustaannya, maka akan muncul dajjal-dajjal kelas teri lainnya sepertinya yang bisa menipu banyak orang dengan keajaiban yang lebih hebat darinya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari orang-orang seperti mereka dan dajjal yang akan datang dengan “mega” keajaiban. Na’udzu billahi min syarri fitnati al-masih ad-dajjal. (www.wahdah.or.id)
17:03 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday Super Special: Talkshow Remaja Cerdas dan Kokoh

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, September 23, 2016 | 17:35

Asslamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sahabat Mentari yang dirahmati Allah SWT, Islamic Sunday Special is Back.
Hadirilah Talkshow Remaja Cerdas dan Kokoh bersama 2 Narasumber yang sangat menginspirasi yaitu:

Kang Sakti M.Psi 
Psikolog Profesional (Konselor & Hipnoterapis Mental Health Community Center & Dosen Magister Profesi Psikologi UNISBA Bandung)
Kang Marlis Nawawi
Penerima Beasiswa S1 dan S2 UNPAD (Dosen Luar Biasa FTIP UNPAD Bandung)

Hari dan Tanggal: Ahad, 25 September 2016
Tempat: Aula Hotel Toserba Selamat Lantai 4 Cipanas
Pukul: 08.00 - Selesai

Gratis untuk Pelajar dan Mahasiswa dan dapatkan Doorprize yang menarik, untuk informasi lebih lanjut hubungi: 0856-7998-228
Wassalamu'alaikum Warahamtullahi Wabarakatuh
17:35 | 0 comments | Read More

Tunduk dan Syukur Terhadap Ketetapan Allah SWT

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, September 22, 2016 | 10:09

Bismillahirahmanirahim
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari Cerita dari Ketua Mualaf Indonesia, Koh Streven Indra Wibowo:


Kemarin 1 diantara 3 orang expat yang bersyahadat bersama saya di salah satu kedai kopi milik orang Indonesia di Jakarta adalah Rodman, orang berkebangsaan inggris yang merupakakan salah satu manager di perusahaan asing di Jakarta. Dia sebenarnya menemani temannya yang akan bersyahadat karena temannya akan menikahi muslimah Indonesia

Setelah prosesi syahadat temannya, Rodman mulai bertanya kepada saya tentang banyaknya orang masuk Islam karena pernikahan. dan dia bertanya: apakah bisa dibilang mereka mendapatkan gift dari Allah juga?

Saya sambil menyeruput kopi asli Toraja yang khas wanginya, mulai menjawab.
Rodman, dalam Islam kami tunduk pada semua ketetapan Allah atas diri kami. Mulai dari nyawa kami, rejeki kami sampai jodoh kami. Anda bisa melihat teman anda, apakah sejak 10 tahun lalu, dia tahu bahwa dia akan menikahi seorang Muslim dan akan menjadikan alasan dia masuk Islam? Kamu bisa tanyakan kepada dia, tapi nanti.

Saya bertanya kepada anda, apakah anda dari sma dulu pernah merencanakan kerja dan mengumpulkan uang di Indonesia? Apakah anda pernah merencanakan bahwa kita akan bertemu dan menikmati kopi malam ini?

Rodman menjawab ya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi walau kita rencanakan, itu bisa saja batal.

Saya jawab, ya betul itulah faith dalam Islam. Keyakinan kita dengan ketaatan kita kepada Allah membuat kita menerima semua ketetapan Allah tanpa komplain, tanpa mengeluh. itulah sebaik baiknya iman.

Rodman menyahut interesting, menarik,

Saya lanjutkan kalau kita sudah tunduk pada ketetapan Allah, maka kita tidak akan pernah lagi ragu dalam hidup ini, dan kita akan senantiasa memiliki pikiran positif dalam semua hal yg terjadi

Rodman menjawab hidup seperti apa itu berpikiran positif setiap saat?

Saya jawab hidup sebagai seorang Muslim dalam Iman Islam dan keyakinan penuh kepada Allah dan mengikuti contoh sebaik baik manusia Rasulullah Muhammad.

Rodman, bagaimana saya bisa menikmati hidup spt itu?

Saya menjawab, silahkan ucapkan serta ikuti saya dan akhirnya alhamdulillah Rodman ikut bersyahadat.

Allah maha membolak balikan hati manusia, memberi hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki
Semoga bisa memberi manfaat

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Sumber: Facebook Streven Indra Wibowo
10:09 | 0 comments | Read More

Ketua Umum PP Muhammadiyah: Remaja Indonesia Kini Menjadi Anak Android

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, September 6, 2016 | 16:23

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir mengatakan remaja Indonesia saat ini selain memiliki orang tua biologis, juga memiliki orang tua android.
Cirinya,  waktu anak dan remaja saat ini dihabiskan untuk berinteraksi dengan media sosial dan gadget. Sehingga fungsi dan peran kemajuan teknologi tersebut menjadi paradoks di kehidupan masyarakat.
“Remaja saat ini hidup sehari-harinya di dunia digital, bahkan kedekatan remaja saat ini dengan android melebihi kedekatan mereka dengan orang tuanya sendiri,” ucap Haedar Nashir,  dalam acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) Regional Kalimantan yang diselenggarakan sejak tanggal 27 – 28 Agustus 2016 di Tarakan, Kalimantan Utara sebagaimana dikutip laman resmi Muhammadiyah.or.id.
Haedar mengatakan, jika hal ini terus-terusan terjadi maka nilai-nilai yang menjadi panutan remaja saat ini bukan lagi orang tua biologisnya, melainkan media sosial, gadget, dan teknologi-teknologi lainnya yang dekat dengan kehidupan remaja.
“Mengatasi hal itu, banyak keluarga yang memandang untuk menghindari kemajuan teknologi dengan lari kebelakang, dan anti dengan segala-galanya, dan ada juga keluarga yang menjadi liberal serta sekuler dan memandang segala-galanya benar,” ucapnya.
Kedua hal tersebut kata Haedar tidaklah menyelesaikan masalah, Islam adalah agama yang menawarkan kemajuan. Namun, kemajuan yang ditawarkan berdasarkan prinsip-prinsip atau value yang luhur. Sehingga orang tua tidak bisa seutuhnya menyalahkan perkembangan teknologi, melainkan harus mengambil peran dalam mengontrol anak-anak dalam menggunakan teknologi tersebut.
“Orang tua harus bisa membatasi anaknya dalam berhubungan dengan dunia digital saat ini, jangan sampai remaja Indonesia menjadi anak asuh android,” tutur Haedar.
Menyikapi perkembangan dunia digital tersebut Muhammadiyah harus mengambil peran dakwah pencerahan, yang dapat disalurkan melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), salah satunya dalam bidang pendidikan.
“Saya pikir Indonesia berkemajuan dapat terwujud, jika Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan dapat bersinergi membangun bangsa ini,” tutur Haedar.
Dalam acara tersebut turut hadir Asisten Gubernur Kalimantan Utara, Walikota Tarakan, Ketua DPRD Tarakan, serta Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah se Kalimantan.*
16:23 | 0 comments | Read More

Islamic Sunday "Provokatips For Spectacular Teen Life", 28 Agustus 2016 Toserba Selamat Cipanas

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, August 24, 2016 | 13:42

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

PROVOKATIPS for Spectacular Teen Life 


Hidup jadi remaja itu engga mudah. Butuh keberanian hebat buat ngelewatinya. Kalo kita lihat & perhatikan dengan seksama kehidupan orang-orang besar sepanjang zaman. Ternyata mereka meninggalkan jejak-jejak langkah sepanjang jalan mereka menuju ke kebesaran hidup. bahkan semenjak mereka berusia remaja.

Materi ini diramu dari jejak-jejak mereka yang kehidupan nya meng-inspirasi. Materi ini bisa memantik lilin inspirasi hidup kamu-kamu remaja, untuk selalu positif dalam kehidupan. Berakibat positive vibes yang mengandung & mengundang hal-hal positif hadir dalam hidup.

Tips-tips yang provokatif diracik untuk membawa hidup remaja makin spektakulerrr! Hanya ada di ISLAMIC SUNDAY nya MENTARI,

Oleh karena itu catat tanggal mainnya, Islamic Sunday kali ini hadir:

Hari dan Tanggal: Ahad 28 Agustus 2016
Jam: 09.00 - 11.00 WIB
Pemateri: Kang Roby Muharram, CMSP (Founder YPR Mentari)
Tempat: Mesjid Toserba Selamat Lantai 4, Jalan Raya Cipanas

So Sobat, buruan daftar dan untuk informasi acara silahkan hubungi 085720191419 dan acara ini Gratis untuk Pelajar

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

13:42 | 1 comments | Read More

Kuttab, Tempat Belajar dan Menghafal AlQur'an sebagai Peninggalan Peradaban Islam

KUTTAB yang dalam bentuk pluralnya katatib, sebagaimana disebut Al Mu’jam Al Wajiz adalah tempat bagi anak-anak untuk menghafal Al Qur`an dan mempelajari baca-tulis.
Pada awalnya, ketika masjid tidak digunakan untuk anak-anak belajar, pengajaran Al Qur`an dilakukan di tepian pasar, di beberapa tokonya. Tempat ini sejatinya dibuat bagi anak-anak dari kalangan keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke bawah. Adapun untuk keluarga kaya, mereka biasa memanggil guru untuk mengajar anak-anak mereka di rumah. Dari sinilah, sebutan kuttab bermula.
Hingga kini, belum diketahui secara persis awal berdirinya kuttab, namun pada abad ke dua hijriyah kuttab, tradisi mengajar Al Qur`an di kuttab sudah dilakukan, dimana Imam Al Baihaqi dalam Manaqib Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i pada awalnya belajar di kuttab sebelum melakukan rihlah ilmiyah.
Biasanya, kuttab tidak hanya tempat belajar Al Qur`an bagi anak-anak, namun di tempat itu mereka memperoleh santunan berupa makanan, pakaian serta kebutuhan lainnya, dimana kuttab sangat memperhatikan kondisi anak-anak yatim dan miskin.
Setiap kuttab menunjuk para pendidiknya, yang biasa disebut dengan faqih, dan sistennya yang disebut arif. Para pendidik harus memenuhi syarat-syarat tertentu, karena mereka yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak.
Anak-anak yang belajar di kuttab juga memperoleh perhatian dalam masalah kesehatan, dimana dokter selalu datang rutin ke kuttab. Para dokter itu, disamping memeriksa kesehatan anak-anak juga untuk mengetahui apakah seorang anak sudah mencapai baligh atau belum. Jika diketahui sudah mencapai baligh maka mereka dipersilahkan untuk meninggalkan kuttab untuk belajar di jenjang selanjutnya, karena lembaga ini hanya diperuntukkan anak-anak saja.
Dalam tradisi kuttab, jika anak sudah selesai menghafal Al Qur`an, maka diadakanlah sebuah perayaan yang disebut dengan israfah. Saat itu sang anak dinaikkan kuda yang telah dihias, dan di belakangnya, teman-temannya ikut mengarak, dari kuttab menuju rumahnya. Sampai rumah, orang tua anak pun menyambutnya sedangkan anak tersebut juga membawa lembaran yang menunjukkan ia telah selesai belajar di kuttab. Kemudian orang tua pun memberikan hadiah materi kepada pendidik,
Kuttab sendiri banyak terdapat di wilayah Timur, sebagaimana dicatat Ibnu Jubair pada tahun ke 7 hijriah. Disebutkan bahwasanya banyaknya kuttab disebabkan perhatian Shalahuddin Al Ayubi yang memerintahkan Mesir dan Syam kala itu dalam pendidikan anak-anak. Dimana juga disebutkan bahwa di Damaskus terdapat salah satu kuttab besar untuk para anak yatim.
Pada masa selanjutnya, istilah kuttab masih digunakan dalam menyebutkan tempat untuk mengajari Al Quran untuk anak-anak, seperti kuttab yang dibangun di majmu’ah Al Ghauri di Kairo pada 900 H. Bahkan di masa kentemporer, penyebutkan kuttab masih populer, dimana dicatat bahwa Syeikh Al Qaradhawi saat masih kanak-kanak belajar Al Qur`an di kuttab, dalam buku biografi ulama Mesir yang kini tinggal di Qatar ini, yang bertajuk “Yusuf Al Qaradhawi: Ibnu Qaryah wa Al Kuttab”.* (Hidayatullah Online)
13:29 | 1 comments | Read More

Bupati Batang Jawa Tengah: Shalat Berjamaah Tingkatkan Disiplin Pegawai

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Monday, August 22, 2016 | 17:21

Bupati Batang, Jawa Tengah, Yoyok Riyo Sudibyo mengaku, banyak efek positif yang dirasakan setelah memerintahkan pegawai di daerahnya melaksanakan shalat lima waktu berjamaah.
“Ini kembali lagi masalah disiplin, makanya saya bikin edaran shalat tepat waktu itu,” ujarnya pada acara Seri Diskusi Kepemimpinan Daerah di Sofyan Hotel Betawi, Jakarta, Ahad (21/08/2016).
Menurut Yoyok, shalat bisa menjadi tolak ukur disiplin seseorang, termasuk kinerja pegawai.
“Shalat, kan, hal yang ringan, maksimal 10 menit. Masa susah? Bagaimana dengan yang lain,” ungkap lulus Akademi Militer tahun 1994 ini.
Tak hanya mengeluarkan surat edaran, Yoyok mengaku juga berusaha senantiasa menjadi contoh dalam hal shalat lima waktu.
“Bahkan ada anggapan di masyarakat, kalau mau temui Pak Yoyok tinggal cegat di masjid saja pas lima waktu shalat,” tukasnya.
Surat Edaran bernomor 800/SE/2045/2015 tentang shalat lima waktu di masjid itu ditujukan ke berbagai pihak.
Seperti, aparat sipil negara, kepala dinas dan seluruh jajaran satuan perangkat kerja daerah, TNI/Polri, perusahaan swasta, sekolah, madrasah, pondok pesantren, rumah sakit, dan berbagai komunitas profesi.
Saat ini, diakui banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat Batang semenjak dipimpin Yoyok.
Beberapa prestasi yang diraihnya yakni, Pemkab Batang merupakan daerah dengan urutan terendah dalam penyimpangan anggaran se-Jawa Tengah.
Pemkab Batang pun meraih Investment Award, standar ISO 270001 tentang keamanan lelang proyek, dan penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Awards. Kemudian, selain PAD Batang meningkat 300 persen, banyak pencapaian lain Pemkab Batang. (Hidayatullah Online)
17:21 | 0 comments | Read More

Tips Menjadi Pemuda Idaman

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Thursday, August 18, 2016 | 13:55

Ustadz Maman Surahman, Lc, M.Ag
Islam memberikan arahan yang benar di dalam menentukan siapa yang akan menjadi teman hidup seseorang.
Islam mengarahkan pada 4 hal yang harus diperhatikan oleh seorang laki-laki di dalam rangka menentukan calon istrinya dan ada hanya 2 hal yang harus diperhatikan seorang perempuan dalam menentukan siapa yang akan diterima menjadi suaminya.
Empat hal yang harus diperhatikan seorang laki-laki itu adalah sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "seorang wanita dinikahi karena 4 hal:
1. karena hartanya 
2. Karena kecantikannya, 
3. karena nasab (keturunanya) 
4. karena agamanya, maka Pilihlah seorang wanita yang agamanya baik maka engkau akan beruntung
Secara manusiawi seorang laki-laki ketika akan menentukan pilihannya maka kecenderungannya adalah melihat dari segi fisik, karena pada dasarnya 80 persen laki-laki bersifat visual sehingga yang pertama dilihat adalah rupa yang cantik
Inilah laki-laki yang tertarik dengan pasangannya secara fisik. Sehingga arahan Islam adalah hendaklah memilih yang mempunyai agama yang baik karena fisik itu suatu saat akan hilang. kecantikan Suatu saat akan hilang dengan bertambahnya usia.
Harta juga bisa habis secara tiba-tiba, bahkan kemuliaan keturunan juga akan hilang suatu saat. Akan tetapi yang namanya kebaikan akhlak dan agama inilah yang akan kekal
Sedangkan untuk wanita maka islam hanya memberikan dua faktor saja yang harus diperhatikan
Yaitu agama dan akhlak yang baik sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam : "Jika datang kepadamu seseorang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah, jika tidak maka akan terjadi kerusakan yang besar di muka bumi." (HR. Tirmidzi).
Pertanyaannya adalah, apakah para wanita tidak tertarik dengan ketampanan atau keindahan rupa?
Jawabannya, para wanita tertarik dengan ketampanan dan keindahan rupa
Akan tetapi standar keindahan menurut wanita berbeda dengan standar keindahan menurut laki-laki.
Hal ini disebabkan karena 80% wanita itu bersifat audio (sesuatu yang didengar). Ketertarikan mereka cenderung terhadap sesuatu yang didengar menyenangkan bukan kepada sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat
Keindahan menurut wanita adalah penghargaan, penerimaan, cinta dan kasih sayang juga kesetiaan. Itu tertuang di dalam pendengaran mereka tidak pada penglihatan mereka
Maka perbaikilah akhlak dan agamamu wahai para pemuda karena sesungguhnya wanita-wanita yang baik itu lebih tertarik kepada agama dan akhlak yang baik dari pada indah dan tampannya rupa seorang laki-laki
Selamat berjuang para pemuda.

Sumber: FB Parenting Nabawiyah
13:55 | 0 comments | Read More

Kaitan Erat Antara Ilmu dan Iman

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, August 16, 2016 | 13:45


RAMAINYA media belakangan ini soal isu sistem pendidikan sekolah menjadi tanda, pendidikan masih perlu diperbaiki dan problematiknya perlu segera dicari solusi. Dari sekian problema pendidikan itu, sesungguhnya terdapat isu fundamental yang harus ditangani. Kesalahan memahami ilmu berdampak cukup serius terhadap kekeliruan penerapan pendidikan. Di antara kesalah fahaman yang masih dijumpai di sederet pendidik dan pelaku pendidikan adalah tidak mengkaitkan ilmu dengan iman.

Pemahaman ‘bercerainya’ antara iman dan ilmu pengetahuan boleh dikata sudah ‘lumrah’ di kalangan pendidik. Di lembaga Islam saja masih terdapat kebingungan pendidik mengaitkan pelajaran ilmu pengetahuan alam dengan iman.

Ilmu dalam Islam menempati posisi sangat penting. Salah satunya al-Qur’an menyebut kata ‘ilm dan deravisanya sebanyak 750 kali. Sehingga orang berilmu menempati posisi mulya. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman;

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Subhanahu Wata’ala  Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).

Dalam satu hadis dijelaskan, mencari ilmu juga mendapatkan tempat yang mulya; “Barang siapa yang mencari ilmu maka ia di jalan Allah Subhanahu Wata’ala  sampai ia pulang.” (HR. Tirmidzi).

Wahyu pertama yang diturunkan Allah Subhanahu Wata’ala  kepada Nabi Muhammad Saw berkaitan dengan perintah membaca (iqra’). Tetapi, sejak awal, sudah diingatkan bahwa proses membaca tidak boleh dipisahkan dari ingat kepada Allah Subhanahu Wata’ala . Harus dilakukan dengan mengingat nama Allah Subhanahu Wata’ala  (Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq). Konsepsi Ilmu dalam Islam tidak memisahkan antara iman dan ilmu pengetahuan. Tidak memisahkan unsur dunia dan unsur akhirat. Karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan dipelajari bermuara pada satu tujuan penting, mengenal Allah Subhanahu Wata’ala , beribadah kepada-Nya dan kebahagiaan di akhirat.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mengatakan, “Mengawali akidah (yang disusun oleh al-Nasafi) dengan pernyataan yang jelas tentang ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting, sebab Islam adalah agama yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Penyangkalan terhadap kemungkinan dan objektifitas ilmu pengetahuan akan mengakibatkan hancurnya dasar yang tidak hanya menjadi akar bagi agama, tetapi juga bagi semua jenis sains.”( Jurnal Islamia No. 5 Thn II April-Juni 2005, hal. 52).

Rasulullah Shaallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah petunjuknya, maka tidak akan bertambah kecuali dia akan makin jauh dari Allah Subhanahu Wata’ala. ” (HR. al-Dailami).

Maksudnya, orang yang bertambah ‘informasi pengetahuannya’, namun tidak bertambah imannya, maka orang tersebut dijauhkan dari petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala .

Karena itu, yang dinamakan al-din(agama Islam) adalah gabungan antara iman, Islam, ilmu pengetahuan, dan amal sholeh merupakan bagian yang tak terpisahkan (Wan Mohd Nor Wan Daud, Tantangan Pemikiran Umat,hal.55).

Karena itu, ilmu dalam Islam berdimensi duniawi dan ukhrawi. Ilmu itu merangkum keyakinan dan kepercayaan yang benar (iman). Karena itu, jika seseorang itu pandai, menyimpan informasi banyak dalam pikiran, akan tetapi jika ia tidak mengenal hakikat diri, tidak mengamalkan ilmunya, tidak beriman dan tidak berakhlak, maka tidak bisa disebut orang berilmu.

Ilmu pengetahuan dalam Islam, semuanya harus menjadikan akidah sebagai asas dasarnya. Belajar ilmu kedokteran, ekonomi, biologi, sosiologi dan lain-lain harus menjadikan syariat sebagai basis, dan mengorientasikan tujuan dasarnya untuk mencapai ridha Allah Subhanahu Wata’ala  Subhanahu Wata’ala , bukan sekedar demi tuntutan duniawi.

Kita telah mengenal macam ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Ada baiknya dua macam golongan ilmu ini kita pelajari lagi, lebih-lebih untuk pendidik. Karena, dengan menerapkan dua macam ilmu ini secara betul, maka Insya Allah, kita tidak lagi menceraikan ilmu dan pengetahuan.

Namun secara mendasar dapat dimulai dengan seperti ini; pertama-tama di dalam pendidikan dasar dan menengah, pengajaran ilmu fardhu ‘ain diperkuat. Formatnya, materi-materi porsi dan praktik pengajarannya akidah diperkuat. Karena bidang ini termasuk yang wajib bagi individu-individu Muslim mengetahuinya.

Adapaun ilmu-ilmu seperti matematika, IPA, IPS, bahasa, dan lain-lain yang termasuk fardhu kifayah disajikan dengan menjadikan tauhid sebagai basis dan dasarnya. Di sekolah menengah misalnya, kurikulum akidah akhlak, fikih, biologi, fisika dan lain-lain landasannya adalah pengetahuan tentang i’tiqad Islam. Sangat mungkin mengajar biologi atau fisika dengan diramu materi-materi tarbiyah ruhiyahplus akidah Islam.

Dengan desain seperti ini bukan tidak mungkin kelak akan lahir, dokter yang fakih, fisikawan yang mufassir, atau ulama’ yang matematikawan. Profil ideal ini ada dalam sosok Fakhruddin al-Razi, generasi ulama’ yang cendekiawan pasca Imam al-Ghazali.

Di tangan al-Razi, ilmu pengetahuan dalam dunia Islam menemukan fase gemilangnya — setelah sekian lama membeku. Fase itu tidak mustahil terwujud di era modern, itu jika seluruh insan pendidikan Islam menyadari pentingnya relasi antara iman dan ilmu pengetahuan. Jadi, sebaiknya perdebatan insan pendidikan tidak lagi fokus pada cara menyajikan pelajaran; full day apa half day. Karena ada masalah cukup serius yang dilupakan; yaitu konsep pendidikan dan konsep ilmu itu yang sedang dirusak.* (Hidayatullah Online)

Oleh: A. Kholili Hasib
Peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Wakil Sektretaris MIUMI Jatim
13:45 | 0 comments | Read More

Program Pendidikan Akuntansi (PPA) Non Gelar Bank BCA

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, August 12, 2016 | 14:44

Program pendidikan non gelar ini ditujukan kepada lulusan SMA atau sederajat yang memiliki prestasi akademik namun memiliki kendala finansial.
Para siswa mendapatkan pembekalan soft skill, seperti leadershipteam work, pembentukan karakter, grooming, dan financial planning.
Selama pendidikan, peserta tidak dipungut biaya. Bahkan bahkan para siswa mendapatkan uang saku dan fasilitas berupa buku-buku pelajaran serta pemeriksaan kesehatan sesuai kebijakan perusahaan.
Program yang diluncurkan sejak 1996 ini didukung oleh staf pengajar berkualitas dari para profesional dan dosen dari universitas terkemuka di Indonesia.
Program PPA Non Gelar berlangsung selama 30 bulan dan menggunakan sistem gugur dengan standar kelulusan yang ketat. Selain kegiatan di kelas, siswa juga mengikuti on the job training di lingkungan BCA. Selanjutnya, para peserta juga diberikan kesempatan bekerja di BCA tanpa ikatan dinas selepas menyelesaikan program tersebut.
Per akhir 2015, peserta program PPA mencapai 387 orang. Sebanyak 126 orang berhasil menyelesaikan program ini, dan 125 di antaranya memilih bergabung dengan BCA sebagai karyawan permanen.
Persyaratan PPA/PPTI :
  • Warga negara Indonesia;
  • Lulusan SMA/SMK atau siswa/siswi SMA/SMK kelas III;
  • Usia maksimum 20 tahun ;
  • Rata-rata nilai rapor kelas I s/d III minimal 7,50;
  • Rata-rata nilai Matematika (SMA IPA,IPS) atau Nilai Produktif (khusus SMK) minimal 7,50 untuk PPA
  • Rata-rata nilai Matematika (SMA IPA dan SMK Teknik yang berkaitan dengan teknologi informasi) atau Nilai Produktif (SMK Teknik yang berkaitan dengan teknologi informasi) minimal 7,50 untuk PPTI
  • Tidak pernah tinggal kelas dari SD-SMA/SMK;
  • Tidak pernah terlibat narkoba dan pelanggaran hukum lainnya;
  • Lulus dalam proses seleksi. 

Silahkan Daftar Online Disini dan untuk area Cianjur sepertinya masuk area Bandung yang paling dekat.
Untuk informasi lebih detail silahkan klik DISINI
14:44 | 0 comments | Read More

Program Pendidikan Teknik Informatika (PPTI) Non Gelar dari Bank BCA

BCA membuka program PPTI untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan SDM dan perkembangan Teknologi Informatika (TI) di industri perbankan.
Program pendidikan non gelar ini ditujukan kepada lulusan SMA atau sederajat yang memiliki prestasi akademik namun memiliki kendala finansial.
Secara umum, materi yang diberikan program ini setara dengan materi S1 Teknik Informatika, namun diperkaya dengan beberapa materi pengembangan diri.
Program PPTI Non Gelar berlangsung selama 30 bulan dan menggunakan sistem gugur dengan standar kelulusan yang ketat. Para peserta program ini tidak dipungut biaya, bahkan mereka mendapatkan uang saku dan fasilitas berupa buku-buku pelajaran serta pemeriksaan kesehatan sesuai kebijakan perusahaan.
Selain kegiatan di kelas, siswa juga berkesempatan magang di unit kerja Kantor Pusat BCA. Selanjutnya, setelah peserta menyelesaikan program ini, BCA akan memberikan penawaran kepada mereka untuk bekerja sebagai karyawan BCA, apabila perusahaan membutuhkan.
Per akhir 2015, peserta program PPTI tercatat 91 orang. 
Persyaratan PPA/PPTI :
  • Warga negara Indonesia;
  • Lulusan SMA/SMK atau siswa/siswi SMA/SMK kelas III;
  • Usia maksimum 20 tahun ;
  • Rata-rata nilai rapor kelas I s/d III minimal 7,50;
  • Rata-rata nilai Matematika (SMA IPA,IPS) atau Nilai Produktif (khusus SMK) minimal 7,50 untuk PPA
  • Rata-rata nilai Matematika (SMA IPA dan SMK Teknik yang berkaitan dengan teknologi informasi) atau Nilai Produktif (SMK Teknik yang berkaitan dengan teknologi informasi) minimal 7,50 untuk PPTI
  • Tidak pernah tinggal kelas dari SD-SMA/SMK;
  • Tidak pernah terlibat narkoba dan pelanggaran hukum lainnya;
Lulus dalam proses seleksi.
Silahkan Daftar Online Disini dan untuk area Cianjur sepertinya masuk area Bandung yang paling dekat.
Untuk informasi lebih detail silahkan klik DISINI
14:36 | 0 comments | Read More

Pak Habibie: Masjid Harus Jadi Garda Terdepan Tingkatkan Kualitas SDM

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, August 5, 2016 | 09:31


Presiden RI ke-3 BJ Habibie, meminta masjid menjadi garda terdepan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Sebab, kata dia, tidak ada masyarakat di dunia yang bisa mengandalkan pada Sumber Daya Alam (SDA) terbarukan maupun tidak terbarukan secara terus menerus.

Dia menguatarakan, saat tertentu, harga minyak bisa meningkat tajam. Tapi harga minya juga bisa jatuh secara tiba-tiba. Lalu, harga rempah-rempah bisa berada pada harga tertinggi, tapi bisa juga merosot dalam waktu singkat.

"Yang bisa diandalkan terus-menerus adalah SDM terbarukan," kata Habibie, dalam seminar 'Peran Masjid dalam Membentengi Umat dari Pemikiran Menyimpang', di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Kamis (4/8).

Habibie menjelaskan, tahun lalu di Timur Tengah, ada 1,2 juta anak muda berpendidikan pergi ke Eropa. Dari 1,2 juta anak muda itu, 900 ribu pergi ke Jerman. Hal itu menurutnya, Timur Tengah tidak semata-mata mengandalkan SDA, tapi juga mempersiapkan SDM nya agar produktif dan mengembangkan ilmu pengetahuan, berbudaya, beragama.

"Masjid, harus dimanfaatkan untuk mengembangkan SDM. Masjid harus berada di garis terdepan," ujar Habibie.

Ia menjelaskan, produktifitas ditentukan oleh tiga elemen. Masing-masing sinergi positif, elemen budaya dan elemen agama dan ditambah ilmu pengetahuan. Elemen budaya, merupakan elemen yang lebih tua dari agama. Menurut Habibie ini mesti disinergikan dengan elemen agama yang berpegang kepada Alquran dan Sunnah.

Habibie mengatakan masjid harus bisa mendapatkan informasi budaya, agama dan ilmu pengetahuan. Tidak cukup hanya setiap Jumat mendengarkan khutbah, tapi perlu diiringi dengan diskusi-diskusi dan kajian.

"Saya minta kepada khatib, harus yang benar-benar profesional. Memikirkan bagaimana memberikan nilai-nilai Alquran dan Sunnah dari garis persamaan antara ilmu pengetahuan dan agama," katanya. (Republika Online)
09:31 | 0 comments | Read More

Media Sosial Menjadi Sarana Yang Efektif Bagi Operasional Aparat Polres Cianjur

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Wednesday, August 3, 2016 | 14:46

Mungkin bagi sebagian orang menganggap Jejaring Media Sosial semacam Facebook dan Twitter hanya alat untuk mengekspresikan kondisi hati, jika sedang sedih atau senang maka Timeline Medsos jadi pelampiasan.

Tapi sebenarnya fungsinya bisa jauh lebih bermanfaat sepertinya untuk mencari uang dengan berdagang secara Online atau menjadikan sarana berbagi informasi termasuk bagi Aparat Kepolisian Resort Cianjur.

Seperti yang dilakukan oleh Aparat Kepolisian bernama Nopan Sudirman yang melaporkan aksi tawuran di Salaeurih Kelurahan Sayang Cianjur tanggal 2 Agustus 2016 kemarin, dimana ada Pelajar di dalam angkot yang dilempari oleh Pelajar lain yang berada di Jalanan. Ketika mereka melewati kerumuman Pelajar yang melempari Angkot itu, para Pelajar di dalam Angkot melawan dengan mengeluarkan Celurit. Dan Alhamdulillah tawuran itu bisa dicegah oleh Aparat tersebut dan berhasil diamankan.


Kemudian Kapolres Cianjur Asep Guntur Rahayu yang kebetulan berteman di Facebook dengan anggotaya itu menimpali informasi tersebut dan sharing di Timeline-nya sebagai informasi kepada Masyarakat tentang aksi tawuran yang Alhamdulillah yang gak jadi tersebut. Dan di komentarnya beliau menyerukan agar para Orang Tua harus mau peduli dengan mengecek Tas Anak-anak mereka ketika akan berangkat sekolah terutama yang duduk di bangku SMK/SMA atau sederajat.

Nah tugas Polisi sebagai penjaga keamanan sudah terlaksana, tinggal para Guru, Ustadz dan Orang Tua memastikan anak-anaknya tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti tawuran. Yang parahnya sampai membawa Celurit dan Senjata tajam lainnya.
14:46 | 0 comments | Read More

Dulu Masa Orientasi Siswa (MOS) Kini Namanya Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS)

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Tuesday, July 19, 2016 | 10:20


Senin, tanggal 18 Juli 2016 menjadi hari pertama anak-anak masuk Sekolah. Di masa-masa yang lalu hal itu sering disebut dengan MOS yaitu Masa Orientasi Siswa. Kamu yang angkatan lama, pasti tahu betul bagaimana repotnya menyiapkan perlengkapan dan atribut untuk MOS di hari pertama.

Tahun ajaran 2016/2017 ini ada perbedaan, yakni tidak ada MOS. Karena berdasarkan evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan MOS menjadi ajang tindakan perpeloncoan yang dilakukan oleh Siswa senior terhadap Siswa baru.

Sekarang ini MOS berganti menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan menginginkan Sekolah menjadi tempat belajar yang penuh tantangan sekaligus menyenangkan. Maka dari itu, Pengenalan Lingkungan Sekolah diselenggarakan oleh para Guru, bukan lagi oleh Siswa senior (biasanya oleh OSIS). Berikut perbedaan MOS dengan PLS di Hari Pertama Masuk Sekolah.

Dulu (Masa Orientasi Siswa atau MOS):

1. Siswa Senior dan / atau alumni menjadi penyelenggara.

2. Kegiatan mengandung unsur perploncoan, pelecehan, kekerasan, dan/atau pemberian hukuman yang tidak mendidik.

3. Siswa baru menggunakan atribut yang tidak masuk akal dan/atau tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran siswa.

4. Kegiatan dilakukan di luar jam pelajaran.

5. Sekolah meminta pungutan biaya maupun bentuk pungutan lainnya yang sifatnya memaksa.

Sekarang (Pengenalan Lingkungan Sekolah atau PLS):

1. Guru menjadi penyelenggara.

2. Kegiatan bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan.

3. Siswa baru memakai seragam dan atribut resmi dari sekolah.

4. Kegiatan hanya diadakan di lingkungan sekolah, ketika jam pelajaran, serta dalam 3 hari di minggu pertama awal tahun ajaran baru.

5. Sekolah menugaskan minimal 2 orang guru untuk mendampingi kegiatan pengenalan anggota baru ekstrakurikuler.
10:20 | 0 comments | Read More

Pemprov Jawa Barat Canangkan Program Tolak Kekerasan di Sekolah


Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar kampanye Jabar Menolak Kekerasan. Kampanye ini bertujuan untuk mengurangi angka kekerasan dengan wadah program sekolah.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan, pemilihan sekolah sebagai wadah program Jabar Tolak Kekerasan karena anak-anak sering menjadi sasaran kekerasan.

"Kita ingin mewujudkan sekolah ramah anak. Mengapa kita memilih sekolah karena sekolah dihuni anak-anak yang sering menjadi sasaran kekerasan," kata Aher saat memimpin Apel Besar Pencanangan Jabar Tolak Kekerasan di halaman Gedung Sate, Bandung, Senin (18/7/2016).

Ditemui secara terpisah, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Netty Prasetyani mengatakan, dirinya sangat bersyukur program Jabar Tolak Kekerasan dalam upaya mewujudkan sekolah yang ramah anak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak pemangku kepentingan.

"Saya mengapresiasi keterlibatan seluruh pihak baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, para pengawas dan kepala sekolah yang terlibat langsung termasuk peserta video conference," kata Netty.

"Saya lihat hasil dialog video conference tadi pagi, bahwa pihak sekolah antusias untuk segera menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak," tambah Netty.

Netty menilai, pihak sekolah sangat siap dalam menyambut program Jabar Tolak Kekerasan ini. Hal ini terlihat saat dia mengantar anaknya ke SMAN 3 Bandung dengan terpampangnya spanduk kampanye penolakan terhadap kekerasan.

Dia juga berharap paradigma tahun ajaran baru di sekolah yang identik dengan ajang balas dendam senior terhadap junior, melalui Masa Orientasi Siswa (MOS) dapat berubah dengan pengenalan program baru yaitu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

"Dengan paradigma baru semoga dapat memberikan citra sekolah bisa bebas dari budaya kekerasan," kata Netty.

"Sekecil apapun bentuk bullying dari senior kepada junior, dari guru atau yang lainnya kepada siswa, semoga dapat dihilangkan," ujarnya.

Netty menegaskan, orangtua ataupun siswa dapat melapor langsung kepada P2TP2A jika suatu saat nanti menemukan kasus kekerasan yang terjadi di sekolah ataupun di tempat lainnya.

Netty mengatakan, salah satu indikator sekolah yang mendukung program ramah anak adalah dengan memasang spanduk atau papan pengumuman informasi yang mencantumkan nomor Kepala Sekolah, guru BK, dan T2PT2A.

"Kalau ada kasus bisa dilaporkan ke T2TP2A, dengan demikian harapannya kekerasan di sekolah bisa dideteksi dan ditangani. Kita berharap setelah program ini kita gagas, maka angka kekerasan di Jawa Barat bisa turun," ujarnya.

Sebagai informasi, angka kekerasan secara umum yang terjadi di Jawa Barat sampai semester pertama tahun 2016 sudah mencapai 76 laporan.

Netty mengatakan, angka ini sudah termasuk tinggi dan kemungkinan masih ada kasus kekerasan yang tidak dilaporkan oleh korbannya.

"Dengan berjalannya program ini, saya berharap angka kekerasan terhadap anak di Jawa Barat bisa diredam," katanya.

Sumber: Inilahkoran.com
09:59 | 0 comments | Read More

Ketua Pertimbangan MUI Pusat: Ego Kelompok Berpotensi Pecah Umat


Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Din Syamsuddin mengatakan terdapat dilema dalam kemajemukan Indonesia. Menurut Din, terdapat ego kelompok yang menjadi potensi terjadinya perpecahan antar umat beragama.
"Kita harus bertekad kemajemukan sebagai kekuatan," ujar Din, pada acara Halal Bi Halal Idul Fitri 1437 H oleh Indonesian Association For Religions & Cultures (IARC) dan Majlis Ulama Indonesia (MUI), di Grand Sahid Jaya Jakarta, Senin (18/7) malam.
Dia mengajak agar kebersamaan terus dijaga. Baik kebersamaan atas dasar agama, suku dan etnik. Dia menuturkan kebersamaan harus menjadi pengalaman batin. Mantan ketua umum MUI dan PP Muhammadiyah itu juga menginginkan tidak ada kelompok yang ingin menang sendiri.
"Jangan ada yang ingin menguasai kelompok lain," kata Din. Dengan menjaga kebersamaan, Din meyakini  komitmen nilai Pancasila akan tetap terjaga.
Di acara yang sama,  Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan juga mengajak tokoh agama menjaga kebersamaan. Luhut tidak menginginkan konflik seperti negara-negara Timur Tengah terjadi di Indonesia.
"Kita di Indonesia kebersamaan perlu dipelihara, jangan terperosok seperti Timur Tengah," kata Luhut.

Sumber: Republika.co.id
09:44 | 0 comments | Read More

Dewan Pendidikan Cianjur: Menulis di Kalangan Guru Masih Minim

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Monday, July 18, 2016 | 17:34

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Cianjur, RA Ridwan mengaku pihaknya merasa sangat prihatin melihat kondisi guru di Kabupaten Cianjur masih sangat minim dalam menulis.

Padahal menulis merupakan salah satu syarat dari seorang guru untuk kenaikan pangkat. Melihat kondisi seperti itu pihaknya menilai bahwa pendidikan di Kabupaten Cianjur masih sangat rendah.

“Sebagai orang yang terjun dalam dunia pendidikan seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada yang lain khususnya sesama teman seprofesinya itu dan biasanya yang suka malas dalam menulis adalah guru yang sudah senior,” tutur Ridwan.

Menurutnya, dalam hal ini juga seharusnya Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur jangan tinggal diam saja. Pasalnya, guru yang malas dalam menulis harus diberikan pengarahan dan pelatihan

“Ya, Disdik itu harus bisa mengajak guru-guru untuk menulis dan menghasilkan hasil karya tulis. Karena mereka itu tidak akan bergerak jika pemimpin mereka itu tidak bergerak juga. Kalau seperti itu bagaimana pendidikan di Cianjur bisa maju seperti halnya kabupaten lain maupun negara lain,” tegasnya.

Ditambahkannya, untuk mengantisipasi hal tersebut dalam hal ini dewan pendidikan berencana akan melakukan kerjasama dengan dinas pendidikan mengadakan acara pelatihan khusus untuk guru.

“Insya Allah kami akan melakukan kerjasama pelatihan menulis. Tujuannya agar mereka (guru) semangat dalam menulisnya kembali lagi,” ungkapnya.

Sumber: pojoksatu.co.id
17:34 | 0 comments | Read More

Video Bagaimana Anak Sekolah Yahudi di Israel Sangat Membenci Bangsa Arab

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Monday, July 11, 2016 | 14:11

Sebuah Video yang menggambarkan bagaimana anak-anak Yahudi di Israel sudah didoktrin untuk membenci orang Arab (Islam) dan mereka menganggap Bangsa Arab di Tanah Palestina yang dijajah oleh Israel sebagai budak


Terjemahan:
Pengawas: "apa perasaan kalian bila bertemu dengan Arab?
Murid: "perasaan kemarahan, saya merasa ingin membunuhnya."
Pengawas, "Dan apa yang terjadi bila bertemu anak Yahudi yg tidak taat beragama?"
Murid: "Saya merasa kasihan kepada mereka, karena mereka sekuler."
Pengawas, "Kenapa merasa kasihan kepadanya?, karena tidak dilahirkan dalam ketaatan, apa yg merugikan kalian?"
Murid: "karena dia tidak berada dijalan yang benar."
Pengawas: "Apa yang kalian lihat dari al-Quds selama 10 tahun?"
Murid: "Semuanya Yahudi, dan disana terdapat Arab akan tetapi mereka adalah budak."

Oleh: Ruslan Gunawan
14:11 | 0 comments | Read More

Belajar dari Sejarah: Jika Umat Islam Indonesia Semakin Liberal dan Sekuler Maka Tunggulah Kehancurannya

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, July 1, 2016 | 11:18

Judul Asli: Belajar dari Genosida Muslim Bosnia (Refleksi terhadap Toleransi Beragama)
Oleh: Ilham Tirta (Wartawan Republika Online)

Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya. Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunan antarumat beragama.

Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islamnya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi. Dalam diary yang ditulis Zlatan Filipovic--seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia--diceritakan bagaimana sekulernya warga Muslim sebelum 1992. Pada masa itu, tak ada lagi wanita Muslim yang memakai kerudung. Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya.


Ketika hari raya agama, seperti Natal dan Lebaran Muslim, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga terbiasa dengan tradisi barat, seperti Valentine, April Mop, tahun baru, Halloween, dan sejenisnya. Sementara, shalat tak lagi dilakukan.


Muslim Bosnia--seperti Muslim Indonesia yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Buddha, dan animisme--berasal dari pengikut Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. Sementara, Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990.


Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekularisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan/atau pemeluk Islam.


Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnik. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam. Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian kuburan massal. 


Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memedulikan nilai-nilai Islam tersentak kaget mendapat serangan yang dimulai pada April 1992.

Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, dan merayakan Valentine bersama, kini meninggalkan mereka, bahkan berbalik menyerang dan membunuh mereka bersama tentara Serbia.

Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur terdengar desingan peluru yang menggema, ledakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. Dalam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka. Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. Azan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun, mereka terlambat. Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim.


Gempuran yang terjadi membuat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun, zona itu hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman.


Medan pembantaian terbesar umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia tersentak. Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar menjadikan Soeharto melakukan operasi "berani mati" walau PBB menyatakan tak bisa menjamin keamanan kunjungannya.


Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di gudang dekat Desa Kravica.


Malang tak terbendung. Kabar yang berembus menyebut 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat.


Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang.


Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan. Namun, negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut genosida pertama di dunia. Mantan presiden Republik Srpska (Serbia) Radovan Karadzic ditangkap pada 21 Juli 2008. Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia.


"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,'' demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, Jenderal Ratko Mladic, ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di Mahkamah Internasional.


Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara menjadi pelajaran bagi umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indonesia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme memiliki banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.


Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadu domba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu. Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat masif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.


Jangan heran jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekularisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Islam.


Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup damai dengan warga Arab dan Palestina.


Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan orang yang dimasukkan ke dalam masjid kemudian diberondong dengan peluru antitank.


Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam.


Dunia juga mencatat betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal dan terbuka oleh Buddha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya.


Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamais. Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya beberapa helai di balik kebaikan.


Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat gereja, masjid, dan sinagoge yang berdiri berdampingan.


Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, "Kejahatan yang terorganisasi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi," benar adanya. Wallahualam.

Sumber: Republika Online
11:18 | 0 comments | Read More