Powered by Blogger.

Kisah dari Umar Bin Abdul Aziz, Sabar dan Istiqomah dalam Proses Melakukan Perbaikan

Written By Yayasan Peduli Remaja Mentari on Friday, November 13, 2015 | 17:41


Siang itu, saat (Qailulah tidur siang menjelang dzuhur), Umar bin Abdul Aziz hendak merebahkan punggungnya sejenak. Ia belum lama dibaiat sebagai Khalifah. Putranya, Abdul Malik yang masih sangat belia dan dikenal sholih serta ahli ilmu masuk menemui ayahnya itu Melakukan protes. Abdul Malik berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apa jawabanmu kelak di hadapan Rabb mu jika Dia bertanya kepadamu, kamu melihat Bid’ah dan tidak kamu matikan atau sunnah dan tidak kamu hidupkan?"

Umar Bin Abdul Aziz menjawab tenang, “Semoga Allah merahmatimu dan membalas kebaikanmu sebagai anak yang baik. Anakku, sesungguhnya masyarakatmu dulu telah melakukan semua itu seikat demi seikat hingga kuat sekali, maka kapanpun kamu hendak mencabutnya dari mereka, aku khawatir mereka akan membuat gaduh dan pertikaian hingga akan banyak pertumpahan darah.

Abdul Malik bertanya lagi, “Wahai ayah, apa yang menghalangimu untuk segera menegakkan keadilan seperti yang kau inginkan?”

Umar bin Abdul Aziz menjelaskan strateginya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku ingin melatih dan mengajak masyarakat sebuah latihan yang sulit. Aku ingin menghidupkan keadilan, tapi aku akhirkan agar aku bisa mengeluarkannya bersamaan dengan sifat tamak terhadap dunia. Agar mereka lari dari ini dan masuk dengan tenang ke ini.”

Abdul Malik, “Ayah, mengapa kau tidak segera menyelesaikan hal ini? Demi Allah aku tidak peduli kalaupun aku dan engkau harus direbus demi kebenaran. Apakah ayah tidur sementara aduan kedzaliman telah antri di depan pintumu?”

Umar bin Abdul Aziz memaparkan perpaduan antara tekad, semangat, dan bertahap, “Jangan terburu-buru anakku, sesungguhnya Allah dalam Al Quran mencela Khamr dua kali dan mengharamkannya pada yang ketiga. Dan aku takut kalau memaksakan kebenaran ini kepada masyarakat sekaligus, mereka justru akan menolaknya. Dan ini akan menjadi fitnah.

Wahai anakku, sesungguhnya jiwaku ini adalah kendaraanku. Jika aku tidak berlemah lembut kepadanya, ia tidak akan menyampaikanku kepada tujuan. Sesungguhnya jika aku membuat jiwaku dan para stafku lelah, maka itu tidak berlangsung lama untuk aku jatuh dan mereka pun jatuh. Dan sesungguhnya aku berharap mendapatkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mendapatkan pahala dari keadaanku ketika sedang tidak tidur. Sesungguhnya jika Allah berkehendak menurunkan Al Qur'an ini sekaligus, pasti akan diturunkannya. Tetapi yang diturunkan hanya satu atau dua ayat. Agar iman tertancap dulu dalam hati-hati mereka.”

(Baca ulang dengan teliti kata per katanya. Ini konsep orang besar, untuk sebuah negeri besar, dengan hasil yang datang dalam waktu yang sangat sebentar. Pahami dengan baik konsep tadarruj (bertahap) dalam apapun. Seimbangkan antara semangat yang tinggi, keinginan yang menjulang, dengan memberikan hak rehat bagi diri dan tim. Semua ini hasil keseimbangan antara semangat dan ilmu!!!)
Semoga Allah menjaga antum semua.

Oleh Budi Ashari, Lc
Judul Asli Tulisan: Dialog Dahsyat di Qailulah

0 comments:

Post a Comment